Minggu, 18 Oktober 2026 Berita Terkini & Terpercaya
brksingkawang.orgbrksingkawang.org
brksingkawang.org - Your source for the latest articles and insights
Beranda › Sehari Telepon Ibu, Sebulan Lalu Aku Tak Lagi Cang...

Sehari Telepon Ibu, Sebulan Lalu Aku Tak Lagi Canggung

Sebulan coba rutin menelepon ibu tiap hari, anak rantau ini sadar hubungan keluarga bukan soal jarak, tapi soal kebiasaan kecil yang dibangun.

Sehari Telepon Ibu, Sebulan Lalu Aku Tak Lagi Canggung

Gue anak rantau. Dua tahun terakhir hidup sendiri di kota orang, kos kecil, kerja sampingan, dan semua hal yang dulu dikerjain ibu sekarang gue kerjain sendiri. Dan jujur aja, selama itu pula gue jadi makin jarang ngobrol sama orang rumah. Bukan karena nggak sayang, tapi ya... sibuk. Capek. Nanti aja. Begitu terus sampai nanti nggak pernah datang.

Sebulan lalu gue bikin keputusan yang agak aneh buat ukuran gue: menelepon ibu tiap hari, minimal lima menit, apa pun kondisinya. Nggak pakai drama, nggak pakai nunggu momen. Hasilnya? Bukan hal-hal besar yang gue temuin, justru hal-hal kecil yang bikin gue mikir ulang soal arti keluarga.

Minggu pertama terasa canggung, dan itu jujur aja memalukan

Telepon pertama berjalan kaku banget. Gue nanya "udah makan?" ibu jawab "udah." Diam sepuluh detik. Gue nanya lagi "papa gimana?" dijawab "baik." Selesai. Total tiga menit, dan gue ngerasa kayak lagi wawancara kerja yang gagal.

Ternyata masalahnya bukan di ibu. Masalahnya di gue yang udah terbiasa ngobrol cuma kalau ada perlu. Selama dua tahun mandiri, gue ngelatih diri jadi orang yang efisien — semua komunikasi harus ada tujuannya. Telepon tanpa agenda? Rasanya aneh. Padahal hubungan keluarga justru hidup dari obrolan yang nggak ada tujuannya itu.

Di hari keempat atau kelima, ibu mulai cerita hal-hal random. Tetangga yang pindah, pohon mangga yang berbuah, kucing yang tiba-tiba datang ke rumah. Gue dengerin sambil ngerjain tugas. Awalnya gue pikir ini buang-buang waktu. Ternyata enggak.

Yang berubah bukan hubungannya, tapi cara gue lihat orang tua

Ini bagian yang paling nggak gue duga. Selama sebulan itu, gue mulai dengerin orang tua gue sebagai manusia, bukan cuma sebagai "orang tua". Ibu ternyata punya kekhawatiran soal kesehatan yang nggak pernah dia ceritain. Papa ternyata lagi males-malesan ke kantor tapi nggak mau ngomong ke siapa-siapa. Hal-hal yang nggak akan pernah gue tahu kalau gue cuma telepon sebulan sekali pas butuh uang.

Gue juga jadi sadar satu hal yang agak nyesek: selama ini gue ngerasa jadi "anak yang mandiri" karena bisa hidup sendiri. Tapi mandiri yang gue jalanin ternyata bikin gue lupa kalau orang tua juga butuh dihubungi, bukan cuma menghubungi. Mereka nunggu, tapi nggak pernah nagih. Klasik.

"Gue pikir jadi dewasa itu soal lepas dari orang tua. Ternyata jadi dewasa itu soal bisa tetap dekat walaupun udah jauh."

Kebiasaan kecil yang ternyata ngaruh banget

Gue nggak ngelakuin hal-hal muluk. Nggak ada video call romantis, nggak ada kirim bunga. Cuma:

  • Telepon lima menit tiap hari, biasanya sore sebelum ibu masak. Kadang cuma dengerin dia ngeluh soal harga cabai.
  • Chat singkat kalau ada hal random — foto langit, foto makanan, hal-hal yang dulu gue pikir nggak penting buat dikirim ke orang tua.
  • Nanya satu hal baru tiap minggu soal masa muda mereka. Ini yang paling seru, karena cerita-cerita itu nggak pernah gue denger sebelumnya.
  • Nggak buru-buru nutup telepon. Dulu gue selalu nyari alasan buat mengakhiri. Sekarang gue biarin aja obrolan mengalir sampai ibu sendiri yang bilang "udah sana lanjut kerja."

Yang menarik, efeknya nggak cuma ke hubungan gue sama orang tua. Gue jadi lebih sabar ngadepin hal-hal kecil. Mungkin karena tiap hari gue latihan dengerin orang tanpa buru-buru nyimpulin apa-apa.

Sebulan kemudian: bukan soal rutinitas, tapi soal kehadiran

Kalau ada yang nanya apa hasil konkretnya setelah sebulan, gue nggak bisa kasih angka. Nggak ada yang berubah drastis. Ibu tetap ibu yang suka ngomel soal gue kurang makan. Papa tetap papa yang jawabannya pendek-pendek. Tapi ada satu hal yang kerasa banget: gue nggak ngerasa jauh lagi.

Dulu, tiap kali ada masalah, refleks gue adalah nyelesaiin sendiri karena "nggak mau ngerepotin orang tua." Sekarang gue sadar, yang bikin mereka ngerasa direpotin itu bukan masalahnya, tapi ketidakhadiran gue. Mereka lebih sedih karena nggak tahu apa-apa soal hidup gue daripada karena harus dengerin gue curhat.

Buat kamu yang baru hidup mandiri dan ngerasa hubungan sama orang rumah makin renggang — mungkin nggak perlu nunggu momen besar buat balik deket. Kadang cukup satu telepon pendek yang nggak ada tujuannya. Awalnya canggung, iya. Tapi canggung itu cuma fase, dan setelah lewat, yang tersisa justru hal-hal yang selama ini kita anggap sepele padahal jadi fondasi semuanya.

Gue nggak tahu bakal lanjut serutin ini atau nggak. Tapi sebulan ini cukup buat gue sadar satu hal: hubungan keluarga itu bukan sesuatu yang otomatis awet cuma karena darah. Dia dirawat, sedikit-sedikit, tiap hari, lewat hal-hal yang kelihatannya nggak penting.

Tags: anak rantau hubungan keluarga komunikasi orang tua hidup mandiri kebiasaan kecil